You are currently viewing Rumah Tanpa Atap

Rumah Tanpa Atap

Pengharapan adalah hanya tinggal pengharapan jika pengharapan itu tidak dihidupi dalam diri seseorang. Ibarat orang yang bekerja sebagai “Kondektur, tugasnya tarik karcis atau tiket bus dari penumpang” dan mengajak orang-orang diterminal untuk naik bus dengan jurusan yang sudah ditentukan. Tapi kondektur tidak ikut serta dalam perjalan. Setelah busnya terisi penuh dengan penumpamg maka bus itu akan pergi dengan krunya, tetapi si kondektur akan tetap tinggal diterminal dan melakukan hal yang sama dengan bus-bus berikutnya sesuai dengan pekerjaannya.

Jadi kondektur hanya mempersiapkan keberangkatan penumpang sampai berangkat, namun ia akan tetap tinggal diterminal.

Pengharapan itu adalah sesuatu yang harus kita miliki dalam hidup ini. Pengharapan itu adalah tujuan kita melangkah dan melakukan sesuatu. Pengharapan itu adalah jaminan kita melakukan perkara -perkara Ajaib. Oleh sebab itu, sangat ironis jika seseorang menjalani hidup ini tanpa harapan apapun, ia seperti sedang tinggal di sebuah rumah yang tidak ada atapnya. Meskipun didalam rumah semua fasilitasnyanya lengkap, segala perabotannya canggih, semua barang-barang mewah dan sangat menyenangkan memilikinya, tetapi kalau rumah itu tidak ada atapnya maka hanya menunggu waktu saja, rumah itu dan seisinya akan porakporanda jika angin datang, jika hujan turun dan Ketika panas Terik. Semua akan berdebu, akan cepat rusak dan semua akan hancur seketika karena tidak ada perlindungan yaitu atapnya.

Akan susah menikmati dan mendiami rumah itu, walau secanggih apapun jika tanpa atap. Itu bukan sebuah rumah, hanya sebuah puing saja.

Pengharapan dalam kehidupan orang percaya kepada Yesus adalah seperti sauh yang kuat. Ibrani 58:19 : “Pengharapan itu adalah SAUH YANG KUAT dan aman bagi jiwa kita, YANG telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir”,

Sauh menurut Alkitab Sabda :

Nelayan zaman kuno memakai sauh sama seperti sauh itu dipakai sekarang ini. Akan tetapi, sauh zaman kuno hanya berupa batu besar atau potongan kayu bengkok yang diberati dengan batu. Alat-alat yang amat sederhana ini tidak mampu menahan kapal yang besar, dan tidak lama kemudian dikembangkan sauh logam dengan kait.

Pertama-tama, sauh logam itu hanya mempunyai satu kait untuk berpegang pada tanah; kemudian sauh dengan sebanyak empat kait dibuat. Ada anggapan bahwa Kisah Para Rasul 27:29 mengacu kepada sauh dengan empat kait, “Mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang.”

Pada zaman kuno sauh dilabuhkan baik dari buritan maupun dari haluan (Kis. 27:30). Ketika kapal berlabuh dekat pantai, ia ditempatkan dengan buritan menghadap ke pantai dan haluannya di air yang dalam, dengan sauhnya dilabuhkan dari haluan.

Sauh adalah mutlak ada di atas kapal, karena merupakan jaminan keselamatan bagi kapal untuk tiba ditempat tujuan dengan selamat tanpa memperkecilkan kemungkinan bahaya di laut. Jadi, jika kapal tanpa sauh gak mungkin berlayar dilautuan yang luas.

Demikian halnya dengan hidup kita, Alkitab mengatakan bahwa Sauh sebagai lambang pengharapan (Ibrani 6:19). Jika kehidupan kita tanpa pengharapan sangat ironis sekali. Oleh sebab itu mari kita miliki pengharapan di dalam Yesus sebab dalam tanganNya tiada yang mustahil. Dengan pengaharapn kita bisa dipulihkan bahkan sampai kedalam pikiran kita, Dia sanggup memulihkan kita. Dia sanggup melepaskan kita dari beban-beban berat kita. Dia sanggup menyembuhkan penyakit kita. Tentang penyakit, Zaman sekarang bahkan banyak orang mengidap “penyakit yang gak tau kenapa bisa datang, dan apa jenis penyakitnya” yang dirasa hanya sakit seluruh badan dan lelah tubuh sampai tak berdaya dan bahkan malas untuk berfikir tentang apapun. Namun dalam hal inipun Tuhan berkuasa untuk menyembuhhkan nya. Tuhan sanggup memulihkannya. Yang Tuhan mau hanya kita percaya padaNya dan menaruh harapan-harapan hidup kita hanya dalam tanganNya. Dia akan berjanji membawa kita berlayar kelautan luas, dan melihat banyaknya karya-karyaNya sepanjang perjalanan kita.

Mungkin sekarang kita sedang berada di sebuah rumah tanpa atap, semua tampak kacau, semua berantakan karena angin, panas Terik dan lain-lainnya, tanpa ada perlindungan. Hati kerap kali galau, gak ada tempat mengadu, berharap pada manausia hanya sia-sia, justru kadang malah menimbulkan banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi, kenapa? Karena manusia adalah mahluk yang susah untuk dipercaya. Yang kita rasakan adalah hidup penuh dengan kekuatiran, akan selalu merasa “kapan sewaktu-waktu” kehancuran itu akan melanda kita penghuni rumah atap tersebut.

Daripada memikirkan tentang kekuatiran, memikirkan hal-hal yang tidak berguna dalam hidup ini, mari membangun pengharapan kita dalam Yesus Kristus, Yesus adalah Sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Ketika banyak hal terjadi dalam hidup ini, siang malam mataNya tak pernah terpejam, menunggu setiap orang datang padaNya..

Tak henti-hentinya Dia menunggu kita, datang padaNya menjadikan Yesus adalah pengharapan kita. Menjadikan Yesus Kristus perlindungan kita. Maka rumah yang kita diami gak lagi tanpa atap, namun ada atapnya yaitu Yesus sebagai perlindiungan dan penopang hidup kita, sampai kita dapat mengatakan dengan iman “AnugerahMu cukup bagiku, Terimakasih Tuhan Yesus”.

-FS

Leave a Reply