You are currently viewing Siapa Yang Diundang?

Siapa Yang Diundang?

Jika seseorang berada di puncak keputusasaan karena beban hidup, dan akhirnya menyatakan “dia berserah” kepada Tuhan atas hidupnya, kemudian yakin bahwa Tuhan memberikan kasih karunia atas hidupnya. Akhirnya harapannya terwujud, Tuhan memperdulikan hidupnya. Jika itu benar, kasih Tuhan menjadi jauh lebih sederhana dari dugaan kita, benarkah?

Yup. Kasih Tuhan sangat sederhana, dan bisa terjadi bagi setiap yang membutuhkanNya. Kenapa begitu? Ya, karena Tuhan bukanlah sesuatu yang harus dipelajari. Dia adalah Tuhan yang harus dialami lewat gaya hidup kita.

Mari belajar dari Kitab Yesaya 55:1-13.

Dalam kitab ini, Tuhan berbicara melalui nabiNya untuk memberi tahu bangsa Israel bahwa jika mereka ingin mengalami pemulihan Tuhan, mereka harus mencari Tuhan. Hal yang sama yang Tuhan mau beritahukan kepada kita semua. Sebagaimana Allah berbicara melalui Yesaya untuk menjangkau orang-orang Israel dan juga hari ini menjangkau kepada siapapun yang membaca teks Alkitab ini, yaitu bahwa jika ingin mengalami Tuhan di saat kondisi terpuruk sekalipun, maka harus mencari Tuhan.

Timbulnya berbagai masalah dalam kehidupan manusia asal mulanya adalah ketidakpeduliaan akan keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Masalah hari ini, itu adalah masalah yang sama yang dihadapi bangsa Israel ketika nabi Yesaya diutus Tuhan berbicara kepada mereka ratusan tahun yang lalu, yaitu karena ketidakpedulian!

Ketidakpedulian didefinisikan sebagai tidak peduli, tanpa minat, acuh tak acuh. Kata ketidakpedulian berasal dari istilah indifferentia, yang menggambarkan keadaan pikiran seseorang di mana dia tidak merasakan ketertarikan atau penolakan kepada orang lain, situasi atau masalah apa pun yang ada di depannya.

Dalam dunia ini, jika kita perhatikan kebanyakan orang bersikap ketidakpedulian terhadap yang berkaitan dengan Tuhan. Mereka percaya bahwa hak kita sebagai warga negara, sebagai pegawai, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pemimpin, sebagai bawahan, atau sebagai apapun itu jauh lebih penting untuk diperjuangkan daripada memperjuangkan ketaatan kita kepada Tuhan. Yang sering kita lakukan adalah kita harus berjuang demi tujuan, tidak jarang kita bahkan menyerang, marah, protes ketika terpojok, ketidakadilan, entah untuk apapun itu. Dan Tuhan mengatakan bahwa kita perlu berubah. Kita harus mengandalkan Tuhan.

Pertanyaan untuk diri kita sendiri.

Dimana letak ketidakpedulian kita? Ketika berbicara hal-hal tentang Tuhan, kehendak Tuhan, dan panggilan Tuhan, perintah Tuhan, dan penyembahan terhadap Tuhan, apakah kita bersalah karena ketidakpedulian?

Kenyataannya adalah bahwa kita semua bersalah karena ketidakpedulian terhadap keberadaan Tuhan atas hidup kita. Kita tidak mampu menjadikan ketetapan Tuhan sebagai gaya hidup. Ketidakpedulian terhadap panggilanNya, ketidakpedulian terhadap perintahNya, ketidakpedulian terhadap kehendakNya dan ketidakpedulian kita terhadap banyak hal, sehingga masalah itu banyak datang dalam hidup kita. Kita bingung, kita pustus asa, kita menangis dan akhirnya kita pun tak berdaya. Penyebab dari semua masalah yang kita hadapi adalah karena ketidakpedulian kita tentang keberadaan Tuhan dalam hidup kita.

Tuhan mengutus nabi Yesaya berbicara kepada bangsa Israel, Allah akan memberkati mereka dengan segala berkat yang terbaik agar mereka memiliki hidup yang berpengharapan asalkan mereka kembali kepada jalan Tuhan, taat kepada perintah Tuhan. Tuhan memberikan solusi terhadap bangsa Israel lewat seruan nabi Yesaya, berupa undangan untuk datang padaNya.

Tuhan berjanji siapa saja yang menyambut undangan tersebut akan menikmati hidup yang lebih baik daripada yang selama ini mereka alami Yesaya 55:6, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!.” Kalimat “Carilah Tuhan selama Dia berkenan ditemui” bukanlah Tuhan hilang, tetapi kita hilang tanpa Dia.

Kita tidak tahu kapan nafas terakhir, kita hanya yakin bahwa suatu hari kita akan mati. Kita tahu kematian bukanlah akhir. Dalam kekekalan kita akan bersama Tuhan karena pilihan yang kita ambil yaitu percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Allah menunggu respons yang benar dari umat-Nya terhadap undanganNya. Selagi waktu masih ada bagi tiap-tiap kita, Tuhan menginginkan agar kita mencariNya dengan meninggalkan dosa agar pengampunan-Nya dan pemulihan-Nya dinyatakan. Inilah cara Allah menyelamatkan umat-Nya, Yesaya 55:7 “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.”

Pertobatan sejati adalah berpaling dari hal-hal yang tidak menyenangkan Allah dan tidak melakukannya lagi.

Suka atau tidak suka, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa dosa memisahkan kita dari Allah. Berhentilah berjalan seperti yang kita lalui selama ini, menjadi acuh tak acuh dan tidak mau menghadapi kenyataan, itu jalan yang salah dan sangat berbahaya. Bertobatlah dari ketidakpedulian akan Allah. Berbaliklah dan mencari Tuhan selama masih ada waktu bernafas dalam dunia ini, sebab akan tiba saatnya kita kehabisan waktu untuk hidup dan kesempatan untuk berubah dan terlambat.

Pada akhirnya kasih Tuhan yang sangat sederhana namun sangat berkuasa itu menyentuh kehidupan bangsa Israel dan kasih yang sama itu juga akan mengubah dan memulihkan hidup kita, Ketika kita datang dengan haus kepadaNya.

Hari ini Tuhan mengundang kita. Mari kita jangan tidakpeduli akan undangan Tuhan. Panggilan untuk mencari Tuhan selagi Dia dapat ditemukan, mari kita responi dengan melakukannya.

Siapa yang diundang?

Yang diundang adalah yang haus, yang tidak punya uang untuk membeli makanan. Yang diundang adalah orang-orang yang tak berdaya, orang-orang yang bangkrut, tak punya pekerjaan, sakit, beban yang berat, dan benar-benar orang-orang yang hancur karena beban dunia ini, tetapi apakah Anda haus?

Yesaya 55:1. “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”.

Mungkin ini adalah anda dan saya? Hatimu terasa seperti lautan yang mengering. Sudah lama tidak hujan. Banyak harapan lama telah mengering. Mimpi hampir mati. Jalan buntu lagi dan lagi. Kosong. Tidak terpenuhi, Tidak puas. Ada kesempatan. Tapi tidak ada uang. Tidak ada kekuatan. Tidak ada motivasi. Harus ada sesuatu yang mengisi hati kita. Yaitu rasa haus.

Tapi setidaknya milikilah rasa haus. Ketika kita haus dan mengingini pemulihan dari Tuhan, Dan Tuhan berkata, Anda adalah orang yang tepat untuk menerima undanganNya. Datanglah setiap orang yang haus dan tidak memiliki uang—tidak ada sumber daya, tidak ada posisi, tidak ada rekam jejak, Anda bukan siapa-siapa, tidak ada kekuasaan, tidak ada prestise, tidak ada daya tarik sama sekali. Namun, Tuhan mengundang Anda saat ini untuk menikmati pemulihan dan harapan baru.

Tuhan ahlinya memulihkan orang-orang yang hancur.

Kita harus bersedia untuk datang.

Jika Anda jauh dari Tuhan, Anda perlu datang, mendekat.

Jika Anda telah mendekat, mulailah merasakan kasih karuniaNya, bercakap-cakap dengan Tuhan dalam doa dan permohonan. Lakukanlah dengan rasa haus dan penyerahan diri yang sepenuhnya mengandalkan Dia dalam hidupmu. 

Ketika kita merespon undangan Tuhan dengan benar, kita akan bersukacita serta menikmati kembali pemulihan, berkat-berkat Allah dan hidup kita akan senantiasa memuliakan Allah.

Apakah yang akan seseorang peroleh tatkala ia menerima undangan keselamatan dari Allah? Ia akan menikmati hidup yang penuh sukacita dan persekutuan yang intim dengan Tuhan dan ia akan menjadi berkat bagi banyak orang dan hidupnya memuliakan Tuhan.

FS

Leave a Reply