You are currently viewing Tuhan, Aku Lelah…

Tuhan, Aku Lelah…

Ketika saya memulai waktu saat teduh saya kemarin, ini adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulut saya: “Tuhan, saya lelah…”

Saya tahu, kita semua tahu bagaimana rasanya sakit dan lelah – dan bukan hanya secara fisik.

Dunia tempat kita tinggal adalah tempat yang melelahkan. Anda lelah mencintai terlalu banyak, karena disia-siakan. Anda lelah terlalu peduli terhadap orang lain, ketika mereka tidak mengerti bahwa anda sedang berusaha selalu mengerti mereka. Anda lelah memberi terlalu banyak pada orang lain yang tidak pernah mengembalikan apa pun. Anda Lelah untuk bersabar, Anda lelah untuk selalu mengerti, namun hasilnya tidak ada, Anda lelah dengan ketidakpastian. Bahkan lelah mencoba, tidak ada daya untuk mencoba lagi. Terkadang perasaan-perasaan seperti ini pernah kita alami. Atau mungkinkah sedang kita alami?

Ternyata, dalam berbagai situasi yang kita alami lepas dari perbuatan baik atau tidak yang kita lakukan, dunia tidak selalu berpihak pada kita. Jika kita berharap pada dunia ini, pada akhirnya kita semua akan lelah. Itulah faktanya.

Dalam kondisi ini, mustahil rasanya untuk terus mencoba dan memberi ketika kita kelelahan.  Jika kelelalahan itu dibiarkan maka itu akan menjadi kekecewaan. Oleh karena itu, jika Anda hampir menyerah: cobalah sekali lagi, dengan hati yang mengandalkan Tuhan. Saya tahu Anda lelah dengan upaya Anda. Tapi ketika kita mengandalkan Tuhan, maka kekuatan kita akan dipulihkanNya.

Daud, melalui sebagian besar hidupnya di dunia yang jahat dan suatu waktu dia sempat tidak dapat memahami mengapa Tuhan tidak memperbaiki keadaannya, hingga ia mengambil jalannya sendiri.

1 Samuel 27:1, kita dapat merasakan perasaan Daud yang lelah dengan masalah yang telah dilakukan Saul kepadanya. Dan kita bisa tahu pemikiran Daud tentang sakit dan lelah dalam hidupnya.

“Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: “Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya.”

Kisah Daud dalam 1 Samuel 27:1-12, Pelarian Daud ke Gat, ini adalah untuk kedua kalinya. Sebelumnya Daud melarikan diri ke Gat dan berpura-pura menjadi orang gila (1 Samuel 21:10-15).

Sangat mudah untuk memahami alasan mengapa Daud lari ke Gat. Dia akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada harapan untuk rekonsiliasi dengan Saul, dan kenyataan yang lain, Daud melihat bahwa dia dan orang-orang yang mengikutinya harus melanjutkan hidup. Selain itu, Daud adalah pria yang sudah menikah, dan keluarganya ada bersamanya, dan pengikutnya juga memiliki keluarga mereka (1 Samuel 27:3) mereka perlu dilindungi dari amarah Raja Saul. Mereka tidak dapat dibiarkan untuk terus hidup dalam kondisi di padang belantara dan dalam ketakutan terus-menerus dalam pelarian karena pengejaran yang dilakukan oleh raja Saul.

Karena situasi yang mereka hadapi, Daud memutuskan bahwa dia dan orang-orangnya harus meninggalkan Israel. Begitu mereka pindah dari Israel, berita sampai ke Saul sehingga dia berhenti mengejar mereka.

Kemudian Daud pergi dengan enam ratus orang yang bersamanya ke Akhis anak Maokhia, raja Gat.

Setelah sampai pada keputusannya, Daud membuat tawaran kepada raja Gat dan jelas mencapai kesepakatan dengannya, karena dia dan ‘enam ratus’ pasukannya yang berpengalaman dalam perang melewati perbatasan dan pergi ke Gat bersama keluarga mereka. Daud tampaknya telah memerintah kota dan sekitarnya sebagai negara kota yang merdeka, sambil mengakui Akhis sebagai pemimpinnya. Persyaratan di mana dia menerima kota itu akan diatur dalam sebuah perjanjian. Itu akan mencakup perolehan jarahan, yang sebagian akan diberikan kepada Akhis, sebagai hasil dari penggerebekan di ‘wilayah asing’ (yang menurut Akhis termasuk Yehuda), dan ekspresi kesediaan untuk melayani Akhis secara langsung sebagai tentara bayaran ketika dipanggil. Daud kemudian akan datang ke Akhis membawa jarahannya sehingga Akhis dapat menerima bagiannya yang pasti murah hati, dan sisanya akan dibagi di antara orang-orang Daud. Daud dan pengikutnya tinggal di Ziglag.

Keadaan dalam pelarian itu tidak berjalan lama. Alkitab menjelaskan, lamanya Daud tinggal di daerah orang Filistin adalah satu tahun empat bulan. mereka mengalami sedikit kelonggaran hidup.

Dalam 1 samuel 28-30, Daud dan pengikutnya kembali mengalami kenyataan pahit. Sementara mereka ikut berperang melawan Israel, Mereka disuruh pulang ke ziglag oleh raja Akhis. Bukan karena raja Akhis tapi karena Daud tidak disukai oleh raja-raja kota (1 Samuel 29:6), dan Daud menjawab Akhis Dalam 1 Samuel 29:8,

“Tetapi Daud berkata kepada Akhis: “Apa yang telah kuperbuat? Dan kesalahan apa yang kaudapati pada hambamu ini, sejak saat aku menjadi hamba kepadamu, sampai hari ini, sehingga aku tidak boleh ikut pergi berperang melawan musuh tuanku raja?”

Ketidakadilan. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dialami Daud. Satu-satunya matapencaharian untuk hidupnya dan pengikutnya tertutup. Kemudian hal yang tragis lagi dijumpai dalam hidupnya. Ketika mereka sampai ke kota pelarian mereka yaitu Ziglag, tampaklah kota itu suda terbakar habis.

1 Samuel 30:3-4, menuliskan bahwa kondisi Daud dan tentara yang mengikutinya :

“Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan.

Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.”

Tidak berhenti sampai disana, Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. 600 tentara handal dan berpengalaman sedang kecewa, sedang putus asa. Namun apa yang dilakukan Daud? Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. Dalam 1 Samuel 30:8, Daud datang kepada Tuhan, dan kembali membangun hubungan dengan Tuhan, dan mendengarkan apa yang Tuhan katakan.

“Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Karena penderitaan yang lama, membuat Daud kelelahan dalam hidupnya, hingga ia pun mengambil jalannya sendiri. Hal-hal tidak menjadi mudah, namun hal ini tidak dibiarkan Allah lama-lama terjadi dalam hidup seorang yang bernama Daud. Alkitab menjelaskan dalam 2 Samuel 2:1-4, Daud meresponi perkataan Tuhan dengan benar, ia kembali ke negaranya dan akhirnya diurapi menjadi raja atas Yehuda.

Adakalanya hidup kita diluar kemampuan kita. Hingga kesatu titik, dalam kelelahan kita akan berkata :

Aku kehabisan ENERGI

Aku kehabisan JAWABAN

Aku kehabisan SUMBERDAYA

Kenapa karena Tuhan tahu bahwa dalam kelelahan pun, hati Daud tetap bersandar padaNya.

Hal yang sama yang mau Tuhan katakan kepada kita hari ini. Jika kita lelah jangan sampai putus pengharapan. Jika kita tak berdaya pun, jangan sampai berhenti untuk datang kepada Tuhan, tetap dalam jalan Tuhan, dengarkan suaraNya maka kita akan mendapat kekuatan yang baru, sehingga mampu menangung semuanya dan kita menjadi seorang pemenang. Sebab Tuhan berkata dalam Yesaya 40:31 :

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru:

mereka seumpama rajawali yang naik terbang

dengan kekuatan sayapnya;

mereka berlari dan tidak menjadi lesu,

mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.

-FS

Leave a Reply