You are currently viewing Kesaksianku Hari Ini

Kesaksianku Hari Ini

“Harapanku didalamMu, hanya Kau Yesus Kuatku

Kupercaya  ku aman dalam Mu…”

“Kalimat lagu ini bagus banget, sangat menguatkan iman aku, gimana menurut kamu Rin? dan bahkan ketika aku lagi dijalan, atau olahraga lagu ini selalu aku dengar loh.”

Rina berkata, “Ya..ya..ya… bener sekali, tapi Ref, aku tiba-tiba kepikiran, Yuk kita buat kesepakatan. sebelum matahari terbenam hari ini, ceritakan kisahmu dengan mengimani lagu ini, bukan sekedar kamu senang dengan liriknya. Gimana, oke?.”

Setelah berfikir sejenak, akhirnya mereka berdua sepakat. Rani melihat jam di dinding ruang makan kos-kosan tempat mereka berdua tinggal, “Oh my goodness!” Keduanya kaget melihat jam ternyata sekarang sudah pukul 6.50 pagi. Kedua sahabat itu langsung bergegas masuk kamar masing-masing dan mandi dan berangkat ke kantor.

Rani dan Refani adalah dua orang yang sudah lama berteman. Saat di kelas 3 SMP, mereka bertemu, waktu itu Rani adalah murid pindahan di sekolah Refani dari Madiun, karena orang tuanya pindah tugas ke Jogya, maka Rani ikut serta dan pindah sekolah di Jogya tempat asal usul Refani. Hampir setiap hari mereka bersama, selain hobby yang sama gereja tempat ibadah mereka juga sama. Melakukan banyak aktifitas bersama menjadikan mereka berdua sudah bersahabat dari kecil sampai dewasa. Setelah tamat dari SMA, mereka berdua memutuskan merantau ke Jakarta, kos ditempat yang sama dan meneruskan kuliah di kampus yg sama dengan jurusan yang berbeda, sampai sudah bekerjapun mereka tetap bersama dan bersahabat.

Refani tiba di kantor tepat waktu, kemudian ia dihubungi sekretaris direktur karena harus mengikuti pertemuan pagi ini karena jadwalnya telah dimajukan lebih awal dari biasanya dengan alasan Bapak Direktur ada keperluan di luar kota.

“Permisi, Pak!” Refani mengetuk pintu ruang rapat dengan wajah setengah kaget sebab Pak Harriyanto telah duduk diujung meja, hari ini memang jadwal bapak direktur yang memimpin pertemuan.

”Silakan masuk. Sebelum kita mulai pertemuan ini, terlebih dahulu saya beritahukan bahwa proyek Fashion Ibu Refani digantikan oleh Bapak Aritanto.”

“Kenapa pak? Apakah saya melakukan kesalahan dalam proyek ini?”

“Maaf Bu Refani ini bukan masalah anda melakukan kesalahan, namun ini tentang konsistensi Anda dalam bekerja.” Jelas Bapak direktur dengan tegas.

Langsung seketika Refani hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya. Setelah pertemuan ini selesai Refani berjalan gontai pergi menuju meja kerja miliknya.

“Ada apa, Ref? Kok wajahmu muram gitu.”

“Apa sih arti konsistensi dalam bekerja, Ken?.” Refani bertanya bukan karna tidak tahu apa artinya, hanya kekesalan hatinya.

Keni diam membisu, gak berani mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya, dia tau situasi hati temannya lagi kesal. Pelan-pelan Keni berjalan menuju mejanya.

Menjalani proyek fashion sudah menjadi bagian dari hidup Refani. Gimana nggak, sudah lebih dari 7 tahun dia berada di divisi yang sama. Dan baru tahun inilah dia dipercayakan untuk mempin proyek Fashion mulai dari pemilihan produk yang di desain oleh tim desainer, memproduksi pakaiannya sampai pada pemasarannya. Jabatan menjadi manager Fashion ini telah dilakoninya selama 5 bulan dan hampir setengah jalan. Selama yang diketahuinya, proses perjalanan selama ini baik baik saja dan tergolong lancar. Tapi mengapa pagi ini? 

“Ach…… untuk kesekian kalinya aku menghapus laporan hasil kerjaku selama 5 bulan terakhir ini..” batin Refani didepan monitornya. Setiap teringat kata Pak Herryanto ketika mengakhiri pertemuan tadi pagi “Bu Ref, segera buat laporan kerja selama menangani Fashion, semakin cepat semakin baik, agar secepatnya kita proses kelanjutannya, agar dapat diteruskan oleh Pak Aritanto!” Sesak didadanya. “Namun aku bertekad akan menyelesaikan laporan hari ini juga”. Bathinnya lagi.

Bapak Aritanto baru seminggu ada di kantor kami. Dia menjabat sebagai kepala bagian dan dipindahkan dari kantor pusat. Aku belum mengetahui siapa bapak Aritanto, dan menurut gosip yang beredar di kantor, Bapak Aritanto adalah kerabat dari bapak direktur.

Sebenernya sangat sulit kulakukan. Apalagi sudah banyak tenaga, waktu dan energi terkuras, belum lagi kalau membayangkan penelian orang lain, kenapa proyek yang aku lakukan diteruskan ke orang lain. Akan banyak teman sekantorku  yang menilai jika aku gagal, dan mungkin hanya sedikit orang yang akan memaklumi aku, namanya dunia kerja. Rini teman kerjaku sudah mulai menggosipkan tentang aku di kantor.

“Ach…. kesekian kalinya kuhapus tulisan di monitor komputerku, kuseka airmata yang berjatuhan dipipiku untuk kesekiankalinya…”

Dan gak terasa sampai akhirnya jam makan siang. Aku hanya memandang layar monitorku, tak satu kalimatpun tertulis disana. Satu persatu teman sekantorku mulai beranjak keluar untuk makan siang. Dan aku memutuskan untuk tetap dikantor, dalam lamunanku sebentar, teringat ayat Alkitab yang tadi kubaca setelah saat teduh pagiku: “1 Petrus 4:7 : Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa”. Aku coba memaknai ayat ini dalam situasiku dan untuk diriku sendiri. Dan akhirnya.. kuputuskan.. “yah.. aku harus menguasai diriku, menjadi tenang.. dan aku yakin semua akan baik-baik saja”. Kuputuskan untuk seperti itu, tanpa rasa menghakimi dan menyalahkan orang lain. Kutulis laporanku sebagai pertanggungjawaban kinerjaku selama menjadi ketua tim proyek Fashion yang sangat kusenangi 5 bulan terakhir ini. 

Laporan selesai kukerjakan dengan sebaik-baiknya, lalu kuserahkan terlebih dahulu ke sekretaris Bapak Herryanto. Kemudian, pada sore hari waktunya pulang kantor, aku bersiap-siap pulang.

Dari lobby kantor, Refani memesan GOJEK dari kantor ke kosan. Tetapi, orderannya di cancel berkali-kali. Refani mulai galau, ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya, 15 menit berselang belum menemukan gojek juga. Refani menutup ponselnya, 10 detik kemudian ponselnya berdering, seketika jantung Refani berdetak sangat kencang, tiba-tiba dia melihat nama “Bapak Direktur Herryanto” memanggil.

“Halo, se.. selamat sore pak!” jawab Refani dengan gugup.

“Sore Bu Ref, saya gak menyangka laporan kamu selesai secepat ini, kalau begitu besok kamu bisa datang langsung ke kantor pusat kita dan menyelesaikan proyek baru yang lebih besar dari proyek yang diserahkan kepada Bapak Aritanto.”

Refani sangat terkejutkan dengan permintaan atasannya yang mendadak. Ia diminta untuk pergi ke kantor pusat besok.  Tanpa persiapan apapun, Refani pun menyetujuinya. Siapapun pasti tau artinya. Refani akan naik jabatan. Siapapun akan mengerti ternyata konsistensi yang dimaksud bapak direktur tadi pagi adalah bahwa Refani baik dalam pekerjaannya.

“Baiklah kalau begitu Bu Refani, sampai ketemu besok di kantor pusat.”

Dengan perasaan yang campur aduk, Refani kembali memesan Gojek, kali ini dia tidak memesan Gojek lagi, tapi GoCar karena hujan mulai turun. Didalam Mobil Refani merenung, tiba-tiba dia teringat akan tantangan sahabatnya Rani tadi pagi. Dia baru sadar bahwa Tuhan sedang memberikan kesaksian untuk disaksikan bukan hanya untuk orang lain tapi buat Refani sendiri. Hari ini kisahnya dikantor, mengingatkan Refani ketika mengandalkan Tuhan maka dia akan aman meski apapun yang terjadi. Ketenangan dan penguasaan dirinya menjadikannya pemenang di dalam Tuhan. Sekali lagi Refani menangis dan kembali memasang headset ketelinganya dan menyetel lagu Harapanku, tak henti-hentinya hatinya bersyukur karena penyertaan Tuhan sepanjang hari ini.

Tanpa disadarinya, Tuhan sedang membimbing Refani dalam perjalanan rohani yaitu berjalan bersama Tuhan. Berjalan tetap sesuai dengan Firman Tuhan meskipun tantangan yang hampir membuatnya kecewa dan putus asa. Pada saat krisis hidupnya, hari ini Refani membuat keputusan yang tepat yaitu mendengarkan suara Tuhan dan melakukan FirmanNya maka Tuhan membuat jalannya berhasil, tidak membiarkannya dipermalukan dan dijatuhkan. Kini, Refani pulang ke rumah membawa kesaksian.

-FS

Leave a Reply